Si Bolang Petarung dan Koleksi Bulu Kaki

December 9th, 2007 by jengkolholic

Wawo, namanya lucu sekali, selanjutnya gw ga tau
lagi. Hanya imaginasi gw yang terus meraba-raba seperti apa kecamatan
di Nusa Tenggara Barat itu. Orang-orang bilang Wawo yang berada di
utara Kabupaten Bima itu, memiliki empat matahari. Seperti
Petualangan-petualangan gw sebelumnya mengelilingi nusantara ini, hanya
dua kali gw benar-benar ngerasa kebakar matahari, pertama di Bawean
yang bikin gw item dan langsung ganti kulit, dan Bunaken yang bikin
puasa gw batal. Tapi bedanya, di dua tempat itu ga ada yang bilang
mataharinya ada empat….mmh..kira-kira kulit gw bakal seperti apa
ya?mengelupas atau malah melepuh?

Sepanjang jalan dari Lombok ke Bima fantasi gw berputar-putar hanya
di sekitar itu saja, yang lain hanya malam, ridho yang berkonsentrasi
nyetir dan rika yang mendengkur. Sesekali mata gw tersilaukan oleh
lampu jalan temaram yang berusaha menerangi kegelapan mobil kami.
Memang, perjalanan menuju Bima membelah Sumbawa di malam hari tidak
akan terkenang banyak.Sepi dan Jauh, Gw ngantuk, siap-siap tidur di jok
tengah sambil menutupi tangan gw yang semakin dingin karena udara malam
dan AC kendaraan kami. Tiba-tiba ridho ngerem mendadak, di depan
terlihat tiga orang laki-laki berumur sekitar tiga puluhan bertampang
keras dan berwajah kaku menghentikan mobil kami. dua diantara mereka
mengenakan sarung dan memegang senter, sedangkan yang satunya hanya
diam dan memasang tampang curiga.

Ridho membuka kaca mobil dan Rika tetap lelap di jok depan ditutupi
sarung kotak-kotaknya. gw ngejulurin kepala ke kaca samping depan,
mencoba mencari tau sebisanya hanya dengan melihat saja.Dua detik
berlalu, dengan suara agak serak laki-laki pertama yang memegang senter
menanyakan tujuan kami. Setelah ridho menjelaskan tujuan kami,
laki-laki asing itu tampak makin curiga dan menanyakan kepentingan kami
di Bima. Ridho terlihat agak takut dan gugup. Tiga orang yang
menyeramkan dan kami berada di jalan sepi, di tengah hutan yang gelap.
Dengan suara agak ragu ridho menjawab bahwa dia nganterin kru TV dari
Jakarta untuk syuting Si Bolang. Mereka tampak ga percaya, gw ngelongok
keluar jendela kemudian mengangguk berusaha ngeyakinin omongan ridho.
Respon positif. Mereka percaya. Tapi dilanjutkan dengan peringatan
bahwa kalau kami ke Bima malam ini, tutup kaca dan jangan berhenti lagi
walaupun dipaksa. GW ngerasa agak khawatir kamipun melanjutkan
perjalanan. Ternyata di sepanjang jalan menuju Bima, kami melalui
perkampungan di daerah Dompu yang lagi konflik.biasa perang kampung.
Disepanjang jalan banyak preman megang golok dan p[arang. Batu-batu
berserakan.pokoknya nyeremin deh….

Singkatnya, kami nyampe di kota Bima. Saat itu jam 03.00 dini hari,
waktu Indonesia tengah. Bima tampak lengang, kotanya ga lebih gede dari
Cimahidan dikelilingi oleh lautan. Setelah check in di hotel
Lambitu kami pun langsung istirahat.penat dan gerah. Hotelnya
sederhana, mungkin sangat sederhana sekali. Hanya itu yang gw ingat
sisanya tidur.

Siangnya gw terbangun ketika pintu kamar kami diketok oleh petugas
hotel yang mengantarkan sarapan pagi berupa roti tawar dan segelas
kopi. Jam 11. Sepertinya lebih tepat disebut sarapan siang deh. setelah
makan gw langsung mandi dan ke kamar Rika yang lagi nungguin stringer
Trans7, pak Agus. Tak lama pak Agus pun muncul, pria kurus berkumis ini
terlihat berusaha beramah-tamah walau terlihat dia bukan orang yang
suka berbasa-basi. Basi banget.

Setelah ngobrol cukup lama, akhirnya kami pun sepakat langsung ke
Wawo siang itu untuk survei lapangan. Di mobil tidak banyak terjadi
percakapan, hanya sesekali gw atau Rika berusaha mencari tahu tradisi
masyarakat Wawo. Pak Agus berusaha menjelaskan sebisanya tapi gw tidak
terlalu puas.Tak lama dia lebih memilih memberikan buku serba-serbi
tentang Bima. Lebih baik begitu. Rika pun langsung membaca sementara gw
dan Ridho lebih memilih merokok saja.

Sejam kemudian mobil kami berhenti, Wawo terlihat sangat tandus.
Bukit-bukit mengelilingi kecamatan ini. Tapi hampir semuanya botak.
panas dan kering. Setelah minta izin dengan camat setempat,kami
langsung menuju perkampungan tradisional di sana. Kampung Lengge.
Sesampainya di sana terlihat puluhan rumah kayu bertingkat, beratap
jerami dan berusia ratusan tahun. Eksotis dan tetap kokoh menampung
padi-padi milik penduduk setempat.

Kami langsung menuju salah satu Lengge (Lumbung Padi) terdepan…cape ngetik..besok nyambung lagi..

Ilham Djengkols(Camera Person Si Bolang)